Tiga bulan sudah kulalui masa awal perkenalan sekolah, aku banyak mengenal orang baru dan kepribadian yang sangat berbeda denganku. Sejak awal masuk sekolah aku sudah bertekad bahwa aku mau fokus sekolah saja, tidak ada yang namanya cinta-cintaan apalagi bergaul dengan orang yang tidak bermanfaat.
Aku bergabung dalam kelompok dengan anggota 6 orang yang isinya anak perempuan semua, berkat mereka pula aku semakin semangat belajar disekolah. Berkat mereka juga nilaiku meningkat hahaha!
Dikelasku ada anak laki-laki (sebut saja dia Ari) dia berpostur badan tinggi, kurus dan berkulit hitam buluk #ehmaap. Sama sekali bukan type ku, tapi entah kenapa beberapa anak perempuan ku naksir berat dengannya termasuk teman kelompokku.
"Pakai pelet apa dia sampai banyak yang naksir gitu? astaga apa mata mereka sudah jereng? Begitu disukain" pikirku.
Pagi ini kami semua diberi selembaran tentang pemilihan ekskul, tentu saja aku mau ekskul yang bisa bersama dengan teman kelompokku. Akhirnya aku memutuskan untuk mengambil ekskul dance dan basket, dan ekskul dimulai minggu depan.
Minggu ini aku ekskul dance dan sumpah seumur hidup aku ngga akan mau ikut aktifitas seperti ini lagi, seriuss! Badanku terasa encok karna pemanasan awal tadi dan ewh aku ngga suka dance karna anak perempuannya terlalu lebay, lalu ku putuskan untuk bertahan dibasket meskipun menguras tenaga tapi setidaknya lebih asik dan juga ada banyak kakak senior tampan hehehe.
-------------------------------------------------------------------
Tiga bulan berlalu begitu saja dan ujian sekolah pun tiba, benar-benar waktu berjalan sangat amat cepat pikirku. Seperti biasa saat istirahat aku pergi ke kantin untuk makan soto di lantai 2 bersama teman-temanku, kantin lumayan sepi karna beberapa anak lebih suka jajan di lantai 3 maka kondisi ditempat soto itu hanya ada 1 kelompok kakak kelas dan kelompok ku saja. Aku ingat sekali saat itu kondisi perutku sedang lapar-laparnya dan aku makan tanpa mendengar suara kakak kelas yang menyuruhku mengantar sambal ke mejanya, aku masa bodo saja karna menurutku caranya sangat amat tidak sopan dan aku masih menjaga emosi ku saat itu.
"Oy de sambel dong bawa sini" kata si nenek lampir itu (read: kakak kelas).
"Ngomong sama siapa lu?" aku menengok ke arahnya lalu membuang muka dan fokus makan lagi.
"Ye dasar anak songong, masih kelas 10 aja udah belagu lo!" sahut si mak lampir sambil marah-marah.
Tentu saja aku marah dan berdiri menghadapnya sambil berkata "Terus kenapa kalo gua masih kelas 10? Lo juga masih kelas 11 tapi lagak lo kaya preman" emosi ku benar-benar memuncak.
Dan terjadilah adu mulut yang membuat teman-temanku menarikku untuk segera naik ke kelas, sumpah kalau ngga karna takut di drop out aku bakal jambak rambut dia!
Aku menggerutu kesal karna teman-temanku menarikku naik ke kelas, kenapa coba? Aku kan lagi emosi banget, harusnya mereka biarkan aku menjambak si mak lampir itu biar dia tau aku ini tidak selemah adik kelas lainnya! Jam istirahat berakhir dan aku masuk ke kelas untuk belajar materi kewirausahaan, ketua kelasku adalah laki-laki yang sumpah benar-benar cerewet dan banyak gaya. Memang dikelas kami sudah ada perjanjian jika ada anak keluar kelas tanpa izin ketua kelas namanya akan dicatat dan dihukum wali kelas kami karna anak dikelasku memang cukup rusuh jadilah peraturan itu dibuat, tiba-tiba aku benar-benar ingin buang air kecil dan ketua kelas sedang keruang guru bertanya tentang catatan yang dititipkan guru kami yang sedang sakit.
Karna dia lama sekali maka kaburlah aku sendirian ke kamar mandi, begitu aku balik ke kelas tiba-tiba saja ketua kelas itu mencatat namaku dan aku berusaha menjelaskan tapi dia tetap ngotot sambil menunjuk jarinya ke kepala ku seakan berkata aku tidak punya pikiran. Emosi ditempat soto tadi belum reda lalu si ketua kelas sialan ini mengajak perang dunia pertama denganku, binggo! Ku dorong badannya ke kursi sampai jatuh lalu dia bangkit dan menjambakku dari belakang, aku balas dengan menendang perutnya ya seperti itulah sampai akhirnya kami masuk keruang BK lalu menjelaskan permasalahan dan kami berdamai.
Dan insiden seperti itu bukan hanya terjadi sekali melainkan kedua kalinya namun perang kedua kali ini dengan anak perempuan dikelasku yang mempunyai hobi menghina orang lain, benar-benar bocor mulut anak itu kataku. Bahkan kecepatan dia berbicara bisa diukur dengan spedometer motor, luar biasa! Sampai suatu ketika di lantai 5 kelas kami sedang ada ujian mengetik dan sebagian tunggu diluar termasuk aku dan anak perempuan bermulut spedometer itu, seperti biasa dia melontarkan hinaan kepada teman-temanku dan merembet kepadaku "dari tadi aku diam dan sekarang dia mengusikku, aku ngga akan tinggal diam" langsung saja ku tampar mulut dia lalu dia menarik kantong bajuku sampai robek, tentu saja aku jambak dia, kucakar dan kuberi dia tendangan yang sempat ku pelajari saat karate dulu tepat didadanya. Riuh ramai anak-anak berhamburan keluar ruangan untuk memisahkan aku dan dia termasuk guruku tapi syukurlah kali ini aku tidak masuk ruang BK karna anak-anak menjelaskan bahwa kesalahan awal ada dia, sungguh bukan aku liar tapi aku memang tidak suka jika diusik ketenangannya.
-Bersambung ke Part 8-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar